Home » Profil

Profil

Berziarah di Tengah Perkembangan Kota Jakarta
Paroki St. Ignatius Loyola, Jl. Malang, Jakarta

Tahun 1946 Pastor J. Van Niekerk, SJ yang waktu itu Pastor Kepala Paroki St. Theresia memperluas layanan umatnya dengan memulai sebuah ‘stasi’ kecil dalam rumah salah satu keluarga Katolik di JI. Malang no. 23 (sekarang susteran).
Tengah rumah seminggu sekali digunakan sebagai tempat mempersembahkan misa bagi umat Katolik yang tinggal di sekitar Jl. Cikditiro dan Kali Malang. Segera saja rumah tersebut menjadi terlalu kecil dengan semakin bertambahnya jumlah umat yang menghadiri misa Minggu.
Agustus 1948, Pastor J. Awick, SJ menggantikan Pastor van Niekerk sebagai pastor kepala Paroki St. Theresia. Dengan semangat yang tak kalah dari pendahulunya, Pastor J. Awick memperluas ‘gereja’ Jl. Malang 23 ke halaman belakang rumah yang diberi emperan sehingga mampu menambah kapasitas umat hingga 250 orang. Walau demikian, kondisi ini masih termasuk darurat tingkat tinggi, sebab jumlah umat di stasi Jl Malang hingga saat itu telah mencapai 3000 orang dan hampir seluruhnya adalah warga keturunan Belanda. Dengan perkembangan yang pesat ini nampaknya tak bisa ditunda lagi bahwa stasi JI.Malang perlu ditangani secara khusus. Sejak 1 Oktober 1948, Pastor J. Jansen, SJ diangkat menjadi ‘pastor kepala’ pertama ‘paroki’ JI. Malang.
Pada tanggal 8 Maret 1949 Bapak Uskup mengeluarkan ketetapan berdirinya Pengurus Gereja dan Dana Papa RIK Gereja St. Ignatius atau yang dikenal sebagai “Stichtingsbrief Van Het R.K. Kerk – En Armbestuur Van De Kerk Van den H. Ignatius In Batavia”. Dalam surat tersebut ditetapkan susunan pengurus PGDP sebagai berikut: ketua adalah Pastor J. Awick, SJ; Sekretaris merangkap bendahara Pastor J. Jansen, SJ dengan dibantu oleh tim Bp H. Oei Tjoei Liang, Bp. Dr. A.WJ. Soeradi, Bp P Paulsen, dan Bp. J.E Baas. Sejak saat itu sejarah Paroki St. Ignatius pun berjalan.
Melalui perjalanan yang cukup panjang, pasang surut, dan berliku, hingga saat ini tahun 2007 sampailah Paroki Santo Ignatius pada usia 58 tahun
Mulai tahun 2003, Pastor kepala paroki dijabat oleh Romo Fransiskus Pranataseputra, Pr. Tahun 2006 Romo Yustinus Sulistiadi, Pr yang baru belajar dari Roma membantu Romo Pran.

UMAT PAROKI SANTO IGNATIUS
Pasang surutnya jumlah umat Paroki Santo Ignatius antara lain disebabkan oleh banyaknya mutasi umat Paroki (kepindahan keluarga muda ke Paroki lain, khususnya ke daerah sekitar Bekasi, Depok, Tangerang dan sebagainya), juga akibat penggusuran sebagian wilayah Paroki Santo Ignatius, yaitu daerah sekitar Jl. Kawi, Kuningan dan sekitarnya, bahkan ada satu wilayah yang habis ter-gusur, yaitu Wilayah Robertus Southwell dengan 3 lingkungannya.
Jumlah umat di Paroki Santo Ignatius saat ini sekitar 1575 jiwa dengan 583 keluarga, suatu jumlah yang menurun dari jumlah umat paroki Santo Ignatius pada tahun pertama yang juga berjumlah sekitar 3000 jiwa. Namun demikian dalam perjalanannya, sekitar tahun 1978 – 1980 jumlah umat di Paroki Santo Ignatius mendekati 6.000 jiwa. Hal ini merupakan puncak jumlah umat terbesar sepanjang sejarah Paroki hingga mencapai usia 50 tahun. Oleh karenanya pernah ada rencana Pemekaran Paroki Baru di Kawasan Setiabudi.

WILAYAH

Wilayah Aloysius Gonzaga:
Wilayah yang sebelumnya bernama Bernardinus I ini terletak di kawasan Setiabudi dan tinggal memiliki dua lingkungan yang tentu saja jumlah warganya relatif sedikit daripada wilayah lainnya.

Wilayah Bernardinus:
Wilayah yang sebelumnya bernama Bernardinus II ini berdekatan dengan wilayah B1 di kawasan Setiabudi tengah dan dibagi menjadi tiga lingkungan.

Wilayah Bernardette:
Wilayah yang sebelumnya bernama Bernardinus III ini terletak di kawasan Setiabudi paling selatan dan berbatas pada Jl. Gatot Subroto dan tinggal memiliki 4 Iingkungan dari semula 5 Iingkungan.

Wilayah Fransiscus Xaverius:
Wilayah yang berdekatan dengan kawasan Jl. Kawi yang habis tergusur ini tinggal memiliki tiga lingkungan yang semula empat lingkungan.

Wilayah Leo Mangin:
Wilayah yang memiliki tiga lingkungan dan berada di kawasan selatan Pasar Rumput.

Wilayah Maria Ratu:
Wilayah yang berada di bilangan Menteng dan di dalamnya terdapat kompleks Gereja dan Pastoran serta kompleks Susteran dan Sekolahan ini tinggal memiliki 3 lingkungan dari semula 4 lingkungan.

Wilayah Paulus Miki:
Wilayah di Paroki Santo Ignatius yang seluruh wilayahnya pernah terancam penggusuran Pembangunan Terminal Terpadu ini terletak di sebelah timur Jl. Dr. Sahardjo, mulai dari Manggarai sampai dengan Jl. Casablanca. Wilayah ini memiliki lingkungan paling banyak diantara wilayah-wilayah lain, yaitu lima lingkungan.

Wilayah Rudolphus Aquaviva :
Wilayah yang berbatasan dengan Paroki Santo Fransiscus Assisi, Tebet ini tinggal memiliki empat lingkungan dari semula lima lingkungan, akibat penggusuran sebagian wilayah sekitar tahun 1994-2000. Pada tahun 2002 umat katolik yang berada di Apartemen Taman Rasuna secara resmi diakui dalam wilayah ini.

Share

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.