Tentang St. Ignatius
Santo Ignatius Loyola, Pengakuan Iman
Ignasius Loyola lahir di Azpeitia di daerah Basquem, provinsi Guipuzcoa, Spanyol Utara pada tahun 1941. Putera bungsu keluarga bangsawan Don Beltran de Onazy Loyola dan Maria Sanchez de Licona ini diberi nama Inigo Lopez de Loyola. Semenjak kecil hingga masa mudanya, Ignasius mengecap kenikmatan hidup mewah di lingkungan istana. Dia dididik dalam tradisi dan kebiassaan hidup di istana yang ketat.
Pada tahun 1517, Ignasius menjadi tentara Kerajaan Spanyol. Empat tahun kemudian, pada tanggal 20 Mei 1521, Ignasius menderita luka parah terkena peluru ketika mempertahankan benteng Pamplona dari serangan tentara Prancis. Penderitaan fisik dan mental yang hebat ini ditanggungnya dengan sabar dan berani dalam perawatan selama hampir satu tahun.
Masa pemulihan kesehatannya yang begitu lama menjadi baginya suatu masa ber-rahmat, dimana ia menemukan ambang pintu bagi kehidupannya sebagai seorang manusia baru. Selama masa perawatannya, ingin sekali ia menghalau kebosanannya dengan membaca buku-buku kepahlawan. Sayang sekali bhawa buku-buku heroik yang ingin dibacanya tidak tersedia di situ. Satu-satunya buku yang tersedia ialah buku tentang Kehidupan Kristus dan Para Orang Kudus. Demi memuaskan keinginannya, ia terpaksa menjamah dan membolak-balik buku itu. Tanpa disadarinya apa yang dibacanya tertanam dan mulai bersemi dalam lubuk hatinya. Kalbunya serasa sejuk bila menekuni bacaan itu. Lambat laun ia memutuskan untuk menyerahkan seluruh sisa hidupnya bagi zTuhan sebagai Abdi Allah. Ia tidak ingin lagi menjadi pahlawan duniawi. Kepribadiannya berubah secara total. Dari suatu cara hidup duniawi yang sia-sia, ia menjadi seorang rohaniwan yang melekat erat pada Tuhan dalam cinta kasih yang mendalam. Ia bahkan bertekad melampaui pahlawan-pahlawan suci lainnya.
Pada tahun 1522, Ignasius pergi ke Biara Benediktin Montserrat, timur laut Spanyol. Selama tiga hari berada disana, ia berdoa dengan tekun dan memohon ampun atas semua dosanya di masa silam. Semua miliknya diberikan kepada orang-orang miskin. Niatnya yang sungguh untuk mengabdi Tuhan dan sesama ditunjukkan dengan meletakkan pedangnya di bawah kaki altar kapel biara itu pada tanggal 24 Maret malam hari.
Keesokan harinya setelah merayakan Ekaristi dan menerima Komuni Kudus, Ignasius pergi ke sebuah gua dekat Manresa. Di gua ini ia mengalami suasana tenang dan damai yang menyenangkan. Dan gua ini jugalah yang menjadi tempat kelahiran baru baginya sebagai seorang manusia baru. Meditasi dan doa-doanya selama pemahaman yang baru tentang kehidupan rohani. Pemahaman ini diabadikannya dalam bukunya berjudul ‘Latihan Rohani’ yang masih relevan hingga sekarang.
Dari Manresa, Ignasius bermaksud berziarah ke Tanah suci untuk menpertobatkan orang-orang yang belum mengakui Kristus.Tetapi niat ini dibatalkan karena kondisi negeri Palestina yang tidak memungkinkan. Sebagai gantinya, ia kembali ke Barcelona, Spanyol.
Pada tahun 1524, Ignasius semakin yakin bahwa tugas pelayanan bagi Tuhan dan sesama perlu didukung oleh pendidikan yang memadai. Karena itu, selama 10 tahun ia berjuang memperkaya dirinya dengan berbagai ilmu pengetahuan. Ia belajar di Alcala de Henares (1526-1527), Salamanca (1527-1528) dan Paris (1528-15235) hingga memperoleh gelar sarjana pada tanggal 14 Maret 1535. Masa pendidikan ini menjadikan dia seorang yang berkepribadian matang, penuh disiplin diri, dan berpengetahuan luas dan mendalam.
Kepribadian dan pengetahuan itu sangat penting bagi peranannya sebagai pemimpin di kemudian hari. Kadang-kadang ia memberikan pelajaran agama serta bimbingan rohani kepada orang-orang yang datang kepadanya. Tetapi kegiatannya itu menimbulkan kecurigaan para pejabat Gereja. Sebab, tidaklah lazim seorang awam mengajar agama dan spiritualitas.
Karirnya sebagai Abdi Allah dimulainya dengan mengumpulkan beberapa orang pemuda yang tertarik pada karya pelayanan kepada Tuhan dan Gereja-Nya. Pemuda-pemuda yang menjadi pengikutnya yang pertama adalah Beato Petrus Faber, Santo Fr. Xaverius, Diego Laynez, Simon Rodriques, Alonso Salmeron,dan Nikollas Bobadilla. Kelompok pertama dari Serikat Yesus ini mengucapkan kaul hidup religius di kapel biara Benediktin di Montmartre. Selain mengikrakan ketiga kaul hidup membiara: kemurnian, ketaatan, dan kemiskinan mereka pun mengikrarkan kaul tambahan yakni kesediaan menjalankan karya misioner di Tanah Suci di antara orang-orang Islam. Ignasius sendiri kemudian ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 24 Juni 1537.
Karena misi ke Palestina tak mungkin diwujudkan akibat perang waktu itu, maka kaul tambahan ‘kesediaan menjalankan karya misi di tanah suci’ dibatalkan dan diganti dengan pengabdian khusus kepada Sri Paus.Untuk itu Ignasius bersama rekan-rekannya menawarkan diri kepada Paus Paulus II (1534-1549) untuk mengerjakan tugas apa saja yang diberikan oleh paus, dimana saja, dan kapan saja.
Pada tanggal 27 September 1540, Paus Paulus II merestui keberadaan kelompok Ignasian,yang kemudian dikokohkan menjadi sebuah serikat rohaniwan dengan nama Serikat Yesus. Ignasius sendiri diangkat sebagai pemimpin pertama dalam sebuah upacara di Basilika Santo Paulus.
Selama 15 tahun (1541-1556) memimpin Serikat Yesus, Ignasius memusatkan perhatiannya pada pembinaan semangat religius ordonya. Semboyannya yang kemudian menjadi semboyan umum Serikat Yesus dalam melaksanakan tugasnya ialah Ad Maiorem Dei Gloriam. Ia mendirikan banyak kolese antara lain Kolese Roma (yang menjadi Universitas Gregoriana) dan Kolese Jerman yang khusus untuk mendidik para calon imam untuk karya kerasulan di wilayah-wilayah Katolik yang dipengaruhi Reformasi Protestan. Selama kepemimpinannya Ignasius melibatkan iman-imannya dalam usaha membendung arus pengaruh Protestanisme di Eropa Utara dan dalam pewartaan sabda kepada semua orang Katolik tanpa memandang kelas sosialnya. Ia mengutus Xaverius ke benua Asia yang masih kafir, membuka lahan kafir.
Ignatius dikenal sebagai seorang rohaniwan yang ramah kepada sesamanya. Kasih sayangnya yang besar kepada orang-orang sakit dan lemah, anak-anak dan pendidikannya, terutama orang-orang berdosa banyak kali membuatnya menangis karena memikirkan kemalangan mereka.Karena itu ia menggugah hati imam-imamnya agar dengan tulus berkarya di tengah-tengah semua lapisan masyarakat demi menyelamatkan umat manusia. Ordo Yesuit yang didirikannya dipoles menjadi sebuah ordo religius yang bebas dari ketaatan aturan hidup monastik lama yang kaku. Sebagai reaksi terhadap kekejaman Gereja Abad Pertengahan yang melahirkan Reformasi Protestan, Ignasius menuntut ketaatan mutlak kepada takhta suci dan prinsip-prinsipnya Katolik. Retret yang teratur diupayakannya sebagai suatu sarana ampuh bagi kedalamannya spiritualitas orang-orang Kristen.
Sebelum wafatnya pada tanggal 31 Juli 1556, Ignasius menyaksikan keberhasilan ordonya dalam mengabdi Tuhan dan Gereja-Nya. Provinsi serikatnya pada masa itu telah berjumlah 12 dengan 1000 orang imam dan kira-kira 100 buah biara dan kolese. Dinyatakan sebagai beato oleh Paus Paulus V pada tanggal 3 Desember 1609 dan kemudian oleh Paus Gregorius XV, ia dinyatakan sebagai santo pada tanggal 12 Maret 1622. Ignasius diangkat sebagai pelindung semua kegiatan rohani oleh Paus Pius XI pada tahun 1922.
diambil dari buku “Orang Kudus Sepanjang Tahun”
Penyusun: Mgr. Nicolaas Martinus Scheinders, CICM

Proficiat untuk Paroki St. Ignatius,
dan Rekan-rekan KOMSOS yang telah berupaya
untuk merealisasikan WEB ini,
sehingga pewartaan khabar gebira tidak terbatas
dan dapat diakses oleh umat paroki lain.
Berkah Dalem…
“Ignasius Loyola lahir di Azpeitia di daerah Basquem, provinsi Guipuzcoa, Spanyol Utara pada tahun 1941″………alinea pertama
Dimana saya bisa menemui Santo Ignatius, barangkali masih hidup????
Tapi bukan yang diatas dak beton diatas gereja jalan Malang ya.
salam,
hendra
Leave your response!
Like It
Obituary
Jadwal Misa
Senin – Jumat
pukul 06.00 WIB
Jumat minggu pertama
pukul 18.00 WIB
Sabtu
pukul 17.30 WIB
Minggu
pukul 06.30, 08.30,17.30,20.00 WIB
Komentar Terbaru
Kalender
Trend
Facebook Page