Home » Adven dan Natal 2010

Adven dan Natal 2010


Share

5 Comments »

  • George Adi Kusuma said:

    Sayang sekali…. di saat orang muda bisa di tampilkan dalam kepanitiaan dan memang menjadi ketua panitia… sangat di sayangkan malah orang tua yang muncul ( no offense ) tapi umat perlu mengetahui siapa panitia natal 2010 di st ignatius yang bisa menyampaikan pesan dan kesannya … bukan orang tua yang penuh ambisi…

  • hendra said:

    Sebuah catatan:
    Ikut misa natal jam 5.30 sore di parokiku. Gemerlap hiasan dan dekorasi Natal dengan lampu kerlap kerlip di pohon-pohon natal di halaman. Dapat duduk pas didepan screen kisut. Namun sayang Ibadat Sabda nya Silence of The Lambs, bukannya judul film namun umat menjadi kambing conge. Ada speaker tanpa bunyi, ada fan tanpa bertiup, barangkali pajangan barang baru. Melihat screen bagaikan film bisu. Untunglah saat Gloria Inexcelsis Deo, suara malaekat bernyanyi terdengar dan speaker bisa bersuara, masih dapat memuji dan memuliakanNya. Ngga apa2 koq masih samar-samar dengar hummingnya koor bernyanyi, tanpa tahu Sabda dan Homili Natal. Umat sudah biasa jadi kambing conge. Ikut PE Natal hari kedua sesuai konon liturginya lain, namun bagi saya supaya merasa ikut PE Natal, mengharapkan santapan rohani Natal. Sayang homili hanya bacakan surat gembala atau surat lainnya. Selamat Natal 2010 (dari catatan FB tgl 25 Des)

  • Bernardus Hendrani said:

    Orang mudan jangan prasangka bahwa lansia akan menjadi penghambat kemajuan para muda-mudi.Sejak dahulu sya selalu aktif dalam paroki.Dari ketua lingungan,ketua wilayah API (awam pelayan ibadat,sekarang posiakon) akhirnya anggauta dewan harian.
    Tetapi jaman sudah berubah.Umur sepertinya bisa menghambat,maka harus mundur.Harus ada regenerasi.OK kalau itu jabatan.Tetapi yang kita lakukan adalah pelayanan.Orang muda jangan apriori menganggap yang sudah tua itu penghambat.
    Pergolakan yang sementara ini terjadi dalam paroki adalah seolah yang tua-tua ini mempersulit imam-imam dan dewan.Tidak,kalau tak ada alasan.Kita pernah mengalami masa-masa lampau yang lebih baik.
    Bernardus Hendrani

  • Bernardus Hendrani said:

    Sdr.George yang terkasih.
    Apa dan siapa yang dimaksud “orang tua yang berambisi”? Buka saja kartunya.
    Ambisi apa ?Cirinya apa?Tanpa orang tua,tak ada orang muda.Tak ada ASPIRASI (saya tidak menyebut “ambisi” orang muda,dunia (bukan saja paroki atau Gereja) akan layu.Kita saling membutuhkan dan seharusnya saling menghargai dan menghormati.Kebijakan dari yang tua,spirit dari yang muda.Gereja memerlukan kedua-duanya.
    Ambisi konotasinya negatif.Aspirasi postif.Aspirasi yang hanya mementingkan suatu golongan atau kepentingan kelompok umur bisa menjadi ambisi,di manapun.kapanpun.Karena yang ditonjolkan adalah “self reliance”,”self sufficiency”
    Di dalam Gereja (makanya juga paroki) diperlukan adanya “true discipleship” — pemuridan yang sungguh.Dan kita anut hanya Tuhan Yesus.Bukan Yesus yang di depan.Atau Yesus yang di belakang.Tetapi Yesus yang di samping kita.Yang kita pegang tangan-Nya.
    Jangan takut sama orang yang sudah tua,mereka secara alamiah akan “pergi”.Tetapi jangan juga lupa,yang mudapun akan menyusul,Pada akhirnya yang mudapun akan harus “pergi”.
    Sajak ddi bawah ini muungin bisa menjadi inspirasi yang muda maupun yang tua:——
    “Lord,don’t walk before me,
    I may not follow You. (and go my own way)
    Don’t walk behind me,
    I may not see You. (and do my own way)
    But walk beside me.
    Take my hand,and be my Friend.” (in You I trust)

    Bernardus Hendrani.

  • George Adi Kusuma said:

    Mohon Maaf, sekali lagi dan sekali lagi.. buat Pak Hendra dan Pak Hendrani… Saya juga orang tua… Cucu saya sudah tiga dan saya sudah berkepala 6… bukan maksud saya untuk mendeskreditkan orang tua… kebetulan saja orang yang dimaksud memang di anggap orang tua….
    Yang menjadi concern saya adalah biarlah kita memposisikan diri seperti yang dikatakan Pak Hendrani, berada di samping… bukan dibelakang dan juga bukan di depan..Saat seseorang mau menjadi ketua panitia seharusnya kita bimbing dia untuk berani menyampaikan pesan dan kesan sebagai panitia di hadapan umat.
    Ambisi seperti yang dikatakan Pak Hendrani memang berkonotasi negatif.. tapi mohon di pahami apakah orang yang lebih muda yang ada di paroki ini memang “tidak ada” sehingga Koordinator Wilayah pun yang di pilih secara “diam-diam” karena banyak umat yang tidak tahu… harus “orang tua”. Kalaupun ternyata orang yang lebih muda banyak, mengapa bukan mereka karena mungkin banyak ide-ide segar yang muncul dari mereka. Mungkin yang menjadi pertanyaan mengapa orang muda tidak muncul?, itulah tugas kita sebagai orang tua… membimbing mereka untuk maju..
    Sajak Pak Hendrani sungguh inspiratif… saya menyukainya…

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.