Seksi Liturgi
Seksi ini bertugas mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan tata ibadat, agar setiap pelayanan ibadat dapat membantu umat dalam penghayatan dan bukan ibadat yang rutin dan membosankan. Oleh karenanya Seksi Liturgi mempersiapkan segala keperluan liturgi dari misa harian, mingguan sampai hari raya. Untuk ini, perlu pula dipersiapkan :
Lektor
Pembinaan lektor senantiasa dilakukan dengan memberikan kesempatan untuk mendapatkan pengarahan serta latihan terus menerus. Untuk memacu kualitas lektor, diadakan lomba lektor setiap tahunnya.
Putra-Putri Altar
Lebih dikenal dengan sebutan PASTI (Putra-Putri Altar St Ignatius).
Paduan Suara
Kelompok paduan suara wilayah-wilayah dikoordinir oleh seksi liturgi, agar dapat menjadi pendukung kehidmatan misa/ibadat. Maka seksi liturgi selalu memberikan pengarahan kepada dirigen, pemazmur dan organis. Agar dapat senantiasa mengembangkan diri.

KABAR GEMBIRA
UNTUK SEMUA GEREJA-GEREJA DI DUNIA.
Kepada Ytc.
Para Rohaniwan / Rohaniwati,
Para Pendeta, Para Imam,
dan semua umat manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih,
Salam damai dan kasih setia Tuhan Yesus Kristus selalu beserta kita sekarang dan selamanya,
Saya pribadi menyampaikan kabar pemberitahuan, kabar gembira, kabar kasih abadi, kabar terang abadi, dari kerajaan surga.
Kabar yang selama ini kita nanti-nantikan :
Bahwa Kerajaan surga, Kerajaan Allah yang kita nantikan selama ini, sebentar lagi datang ke dunia.
Kristus Sang Juruselamat dunia, Putra Tunggal Allah beserta kita selamanya.
Persiapkan hati dan jiwa kita, akan tiba saatnya PEMURNIAN bagi dunia.
Mohon tiap-tiap paroki gereja di Indonesia mengintensifkan misa pertobatan u ntuk pemurnian dunia, dan
Mohon doa untuk kedamaian dan keselamatan dunia, dalam menyambut kerajaan surga “kerajaan damai dan sukacita abadi”
Aleluya.. Puji Tuhan Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Amen.
Tuhan adalah gembala yang baik, dia menghampiri aku domba yang tersesat dan terjatuh dalam jurang, dan menyertaiku selamaNya.
Kasih-Nya adalah kasih Allah Pencipta yang tiada batas. Kasihnya adalah selama-lamanya, Biar bumi dan Langit berguncang, Kasihnya akan tetap selamanya.
Kemulian kepada Allah Bapa Pencipta dunia selamanya, Yesus Putra Allah Penebus dosa dan penyelamat dunia, dan Roh Kudus dalam kemuliaan Allah Bapa, dan Putra seperti pada permulaan sejak dunia diciptakan hingga selama-lamanya. Terpujilah nama Tuhan Yesus, santa Maria, dan santo Yoseph untuk selama-lamaNya.
Aleluya Puji Tuhan Kristus Raja dari segala Raja, Presiden dari segala Presiden, Putra Kerajaan Surga, Pangeran Allah.
Mohon pesan ini disampaikan kesemua umat Tuhan.
Terimakasih.
Tuhan Menyertai Kita Selamanya. Amen.
Dulu-dulu saya tidak pernah tahu bahwa misa lingkungan dan pendalaman APP itu pakai stipendium (saya termasuk umat yang tidak setuju adanya misa lingkungan sekedar “pastor’menyambangi umat”) Ketua lingkungan lama tidak pernah membuat laporan keuangan tahunan. Yang baru melakukan reksa lingkungan dengan baik, komplet dengan laporan keuangan tahunan. In dan out semua tercatat dan jelas berapa saldo awal dan saldo akhir.Aneh bagi saya misa lingkungan yang diarrange pastor paroki sendiri kok pake stipendium. Teringat akan pater Lammers SJ, yang dulu sebelum diganti diosesan , menyatakan bahwa Jesuit tidak mengenal stipendium, namun tidak tahu sekarang katanya (saat itu tahun 2000-an). Namun kemudian saya berpikir bahwa oh pastor diosesan memang tidak ada kaul kemiskinan, tangan dan berkatnyapun punya harga, jadi tidak salah ada joke yang menulis sebaiknya diasuransikan tangannya tersebut.
Teringat dan trenyuh isteri dulu mengurus koor untuk menaikkan uang kontribusi setiap lingkungan hendak dinaikkan dari Rp 50.000,- menjadi Rp 100.000 (hanya untuk uang transport dirigent yang rumahnya jauh dan dipinggir kota), salah seorang ketua lingkungan tidak setuju dan minta proposal untuk dibagikan kepada warganya. Kebangetan sekali padahal ybs mempunyai ide manggil pastor untuk pendalaman Adven kemudian setiap lingkungan diminta Rp 250.000 untuk (ada 3 lingkungan dalam wilayah)dapatmemberikan stipendium kepada pastor favorit pribadinya. Secara pribadi saya sangat tidak setuju program misa lingkungan diluar intensi khusus, hanya sekedar buat laporan para pastor kepada uskupnya setiap tahun bahwa mereka mengunjungi umat. Lagipula pastor kepalanya sendiri pernah mengannounce bahwa misa lingkungan akan dievaluasi, namun kenyataannya sampai sekarang berjalan terus. Bahkan akan mengganti dengan acara temu wicara, menurut seorang kawan dalam milis paroki.
Response terhadap sebuah tulisan dalam milis paroki
Menjelang Paska dan Natal atau bulan KS, selalu ada kesibukan yang terprogram dalam PI/PA dimana yang terjadi kadang sekedar baca buku panduan rame2. Kalau ditempat khusus dengan imam yang “konselebrasi” meski pake VCD rupanya juga membosankan dan sepertinya bukan sesuatu yang menarik. Di lingkungan saya akhirnya pertemuan malah berkembang menjadi hal2 yang umum namun aktual di paroki kita dalam hal2 spt penyelenggaraan ekaristi, completorium, dsb.
Selama dalam pelarian saya selama sebulan diluar, saya berkesempatan mengikuti bible study (istilah pastornya). Terdiri dari serangkaian sesi yang diumumkan langsung oleh pastornya saat ekaristi waktu penutupan disampaikan bahwa everybody invited at Room Maria at 8.00pm every Friday. Yang disampaikan ttg Paul’s discipleship. Surprise datang pertama kali bahwa peserta sekitar 100 orang memenuhi ruangan, catat nama, alamat dan noHP. Pertemuan dilakukan diruangan cukup besar tanpa AC hanya kipas2 besar, seperti kebanyakan gereja di Spore. Setahu saya yg pake AC hanya di Mount Batok dan Tempiness dari 8 lokasi yg pernaya kunjungi.Pastornya mengajar dengan formal pakai jubah, ikut bernyanyi dan ikut memainkan instrument musik saat break. Tanpa konsumsi dan bahkan minuman, Suasana agak formal seperti kalau kita masuk klas untuk belajar, dengan pelaksanaan tepat waktu, mayoritas datang hanya bbrp menit sebelum pertemuan mulai. Peserta variatif dari yang muda s/d tua dan setia mengikuti pengajaran pada sesi2 minggu berikutnya. Saya menilai ada daya tarik dari bible study karena yang disampaikan adalah pemahaman ttg siapa Paul, character dan personalitynya dan perubahan yg terjadi dari Saulus menjadi Paul, dst. Disampaikan referensi dan ilustrasi bukan yang dikarang-karang atau guyonan, namun pasti hasil dari baca buku atau ada sumbernya ditambah refleksi seorang imam yang mengajar. Pada minggu berikutnya ada gentle reminder melalui SMS agar datang pada sesi berikutnya. Yang disampaikan pastor adalah seperti yg biasanya kita peroleh dari buku2 referensi dan latar belakang yg menjelaskan apa yg ada dalam kitab Suci. Ada semacam kegembiraan mendengar Sabda dan pemahaman2 baru yang bisa dibawa pulang dp PI?PA masa APP?Adven?Bulan KS yang menguap begitu saja karena tidak ada daya tariik, bahkan sering terjadi dewbat atau diskusi yang isinya”mkenurut opendapat saya, dst…….
Alangkahnya baiknya bila ada di paroki dapat dikoordinir Sie KS menyelenggarakan bible study semavam ini sehingga diikuti banyak peserta yang haus akan pemahaman KS. Semacam yg disampaikan pastor Robby Wowor, OFM yg pernah saya ikuti kursusnya waktu lalu yang diikuti hampir 400 orang selama 3 bulan dengan interval setiap minggu. Atau semacam PA yang dibimbing pastor Hendra Suteja, SJ yang selalu diikuti hampir seratus orang setiap bulannya yang pernah saya ikuti di Permata Hijau.
Minat KS melalui PI/PA menurut pikiran saya bisa lebih menarik bila bukan sekedar ibadat APP/Advent/dan KS. Namun bila ada orang seperti pastor yang mau berbagi pengetahuan ttg KS, meski tidak selalu secara exagese tetapi membawa peserta menikmati KS dengan bimbingan pemahaman baru yang sering kita awam tidak menangkapnya. Dengan pemahaman KS barangkali kita lebih menjadi pengikut Kristus dan ajaran dengan lebih baik. Sabda yang bukan seperti dalam ibadat ekaristi dan homili2 belaka. Para pastor adalah mereka yang terpanggil untuk mengajar dan menyampaikan pemahaman Sabda dan isi KS secara lebih khusus. Semoga.
Salam,
Hendra
“………………………………………. Penulis baru saja kembali dari Pertemuan I MPP 2011 di Lingkungan.
Tahun ini diperagakan “cara baru” dengan menayangkan VCD yang menyajikan lagu
baru “Mari Berbagi” sesuai thema;pengantar & renungan yg dibawakan oleh 2 imam. Penulis percaya tentu “cara baru” ini sudah dikaji secara matang oleh para pakar di KAJ, namun penulis merasakan ada sedikit “kekakuan” pada per-temuan kali ini. Dari awal umat diajak untuk melantunkan lagu pembukaan yang “belum familiar”, salam, tobat,pengantar,doa pembuka-an (dibaca berdasar teks), bacaan KS,nonton VCD. Karena cukup memakan waktu, umat terlihat mulai boring,mulai resah, tidak fokus & tidak ada yang bersedia sharing atas bacaan KS.
Penayangan VCD yang terasa agak lama ditambah kondisi phisik sebagian umat yang kaum pekerja yang hadir ke pertemuan langsung dari tempat kerja, maka pertemuan MPP kali ini terasa kurang “hangat” & kurang interaksi di antara umat yang hadir. Pada hal kehangatan persaudaraan & interaksi di antara umat ini, menurut penulis, sangat perlu & penting di dalam membina & menggairahkan kepedulian umat basis pada hal2 nyata.
Demikian,sekedar pengamatan, semoga bermanfaat bagi bahan evaluasi. Selamat
melaksana-kan MPP tahun 2011..Tuhan berkati. [JD-14/3/11]
20 minutes ago · Like · · Unsubscribe
Berdnard Titus
SIKAP DOA KELIMA
Sikap badan : berdiri tegak, , kaki tidak bersepatu; perhatikan tangan dan mata.
Yang diungkapkan : semedi, mawas diri, sadar atas kehadiran dan kekuatan Tuhan.
“Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yg tak putus-putusnya untuk segala orang kudus”. (Ef 6:18)
“Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada BapaMu yg ada di tempat tersembunyi akan membalasnya kepadamu”. (Mat 6:6)
“NOT A CHRISTIANITY ‘À LA CARTE’, ACCORDING TO HIS OWN TASTES…”
by Benedict XVI
Dear brothers, [...] we have heard the passage from the Acts of the Apostles (20:17-38) in which Saint Paul speaks to the presbyters of Ephesus, intentionally recounted by Saint Luke as the testament of the apostle, as a discourse destined not only for the presbyters of Ephesus, but for the presbyters of all time. Saint Paul is speaking not only with those who were present in that place, he is really speaking with us. So let us try to understand a little of what he is saying to us, at this time. [...]
“I have served the Lord with all humility” (v. 19). “Humility” is a keyword of the Gospel, of the whole New Testament. [...] In the letter to the Philippians, Saint Paul reminds us that Christ, who was above all of us, was really divine in the glory of God, humbled himself, came down becoming man, accepting all the fragility of being human, going all the way to the ultimate obedience of the cross (2:5-8). Humility does not mean false modesty – we are grateful for the gifts that the Lord has given to us – but indicates that we are aware that all we are able to do is a gift from God, it is given for the Kingdom of God. In this humility, in this not wanting to make an appearance, we work. We do not ask for praise, we do not want “to be seen,” for us it is not a decisive criterion to think about what they will say about us in the newspapers or elsewhere, but what God says. This is true humility: not to appear before men, but to be under the gaze of God and work with humility for God, and so really to serve humanity and men as well.
“I have never drawn back from what could be helpful, for the sake of preaching to you and instructing you” (v. 20). Saint Paul returns to this point after a few sentences and says: “I have not drawn back from the duty of proclaiming to you all the will of God” (v. 27). This is important: the apostle does not preach a Christianity “à la carte,” according to his own tastes, he does not preach a Gospel according to his own favorite theological ideas; he does not draw back from the task of proclaiming all the will of God, even the inconvenient will, even the themes that personally are not very pleasing.
It is our mission to proclaim all the will of God, in its totality and ultimate simplicity. [...] And I think that the world of today is curious to know everything. [...] This curiosity should be ours as well: [...] truly to know all the will of God and to know how we can and should live, what is the path of our life. So we should make known and understood – as much as we can – the content of the “Credo” of the Church, from the creation to the Lord’s return, to the new world. Doctrine, the liturgy, morality, prayer – the four parts of the Catechism of the Catholic Church – indicate this totality of the will of God.
And it is also important not to lose ourselves in the details, not to create the idea that Christianity is an immense package of things to learn. Ultimately it is simple: God has shown himself in Christ. Entering into this simplicity – I believe in God who showed himself in Christ and I want to see and realize his will – has content, and according to the situations, we can then enter into the details or not, but it is essential that above all the ultimate simplicity of the faith be made understood. Believing in God as he has shown himself in Christ is also the inner richness of this faith, it gives the answers to our questions, including the answers that we do not like at first and are nonetheless the way of life, the true way. When we also enter into these things that we do not like so much, we can understand, we begin to understand that it really is the truth. And the truth is beautiful. The will of God is good, it is goodness itself.
The the apostle says: “I have preached in public and in homes, testifying to Jews and Greeks about conversion to God and faith in the Lord Jesus Christ” (v. 20-21). Here there is a summary of the essential: conversion to God, faith in Jesus. But let’s stay for a moment with the word “conversion,” which is the central word or one of the central words of the New Testament, [...] in Greek “metànoia,” change of thinking, [...] meaning a real change in our view of reality.
Since we were born in original sin, for us reality is the things that we can touch, it is money, it is my position, it is the things of every day that we see on the news: this is reality. And spiritual things appear a bit behind reality. “Metànoia,” change of thinking, means inverting this impression. Not material things, not money, not the edifice, not what I can have is the essential, is reality. The reality of realities is God. This invisible reality, apparently far from us, is reality.
To learn this, and thus to invert our thinking, to judge truly how the real that must orient everything is God, this is the word of God. This is the criterion, God, the criterion of everything I do. This really is conversion: if my concept of reality has changed, if my thinking has changed. And this must then penetrate all the individual things of my life: in the judgment of every single thing to take as criterion what God says about this. This is the essential thing, not what I get now for myself, not the advantage or disadvantage that I will obtain, but the true reality, to orient ourselves to this reality.
We must precisely – it seems to me – during Lent, which is a journey of conversion, exercise anew every year this inversion of the concept of reality, namely that God is reality, Christ is reality and the criterion of my acting and of my thinking; to exercise this new orientation of our life.
________________
Mohon maaf kalau salah alamat. Saya tidak menemukan bagian contact. Saya ada banyak pertanyaan mengenai ke-khatolikan, agar tdk menjadi polemik dan debat ataupun tudingan secara terbuka, boleh tolong info alamat email romo paroki? Tku God bless
“Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah.”
LITURGY IS NOT SELF EXPRESSION
Wednesday, September 07, 2011
The Mass: The Gift of the Father | Fr. James V. Schall, S.J.
“In the Mass all that we receive is a gift of the Father. It is never ours to shape as we please.” — Archbishop Vincent Nichols, Diocese of Westminster, June 7, 2011.
In the Adoremus Bulletin for August, 2011, Helen Hitchcock republished the sermon of the English Archbishop of Westminster, Vincent Nichols. The Archbishop was speaking to priests of his diocese about the spirit in which they should welcome the new translation of the Mass. Speaking of John 16, Nichols said that “the wonder of our calling, the wonder of the mystery we minister to (is) that we human beings are welcomed into the intimacy and love of the Father and Son, which is the life of the Holy Spirit.” Priests enter “most powerfully” through the celebration of Mass. In the Mass all is “gift of the Father.” These are the key words that Nichols uses to remind us of what Mass means. The Mass that Nichols was celebrating at the time used the new translation.
This new translation, Nichols thought, would suddenly awaken us to new words or to see old ones new again, to be even more alert to what is being said. But what Nichols was primarily concerned with, as was the Vatican Instruction, Redemptionis Sacramentum, of 2004, was what we do, how we look on the celebration of Mass. Nichols gives some very excellent advice. “My first conviction is this: Liturgy is never my own possession, or my creation. It is something we are given by the Father.” These are noble, precise words. The Mass, while it is in a human language with human movements, is never simply what this priest makes up. Nichols adds: “We don vestments to minimize our personal preferences, not to express or emphasize them. Liturgy is not ours.” That is a refreshing idea. Vestments are meant to diminish the personality of the priest so that the priesthood of Christ becomes central. Liturgy is not “self-expression.”
Though much can be said for memorization of texts, I have always thought that the priest should largely “read” the Mass as it is set in the Missal so that the faithful, listening to him and watching him, will know that what he says and does is not his, but the action of Christ in the Church. “The Mass is the action of the Church,” as Nichols puts it. At this point, Nichols has an aside memory. As he recalls, he once heard that John Paul II “never commented on a Mass he had celebrated. It’s the Mass. My task is to be faithful.” That is really profound. Blessed John Paul II, as we read in his encyclical, Ecclesia de Eucharistia, spells out the whole theology of the Eucharist. But the Mass is not “his.” It is the Sacrifice of the Cross, what Christ told us to do in His memory. We do not say “Schall said a fine Mass.” The Mass is the Mass. It is public. The priest is to be faithful to what the Mass is, not to his views.
Nichols then points out that “the Liturgy forms us, not us the Liturgy.” We do not “use” the Mass as an excuse to get people together. The togetherness at Mass is a result of what it is: an assembly of those who believe that it is the Memorial of the Crucifixion of the Lord. Those present at the Mass who do not believe are mere spectators. With regard to priests who keep changing the wording of the Mass to suit their style, Nichols adds: “The words of the Mass form our faith and our prayer. They are better than my spontaneous creativity. At Mass my place is very clear. I am an instrument in the hands of the Lord.”
Redemptionis Sacramentum repeats what is a long tradition in the Church, namely that each priest should say his own Mass frequently, indeed he is encouraged to say Mass each day (#110). Archbishop Nichols says: “My celebration of the Mass each morning shapes my heart for the day ahead.” The Instruction adds: All priests, to whom the Priesthood and the Eucharist are entrusted for the sake of others, should remember that they are enjoined to provide the faithful with the opportunity to satisfy the obligation of participating at Mass on Sundays” (#163). The “shaping of the heart” by Mass belongs to everyone. Archbishop Nichols puts it well: “Our (priestly) part is to offer the Mass as a service of the people. “
In his book, The Spirit of the Liturgy, Joseph Cardinal Ratzinger stated that the priest needs to “decrease,” to use words of John the Baptist. The Mass is not about him. One of the upsetting effects of turning the altar around was its inducement to turn the priest into an actor or a commentator. He too easily sees himself as the center. This is why the Pope has said that there should be a crucifix on every altar that faces the people, just to remind everyone what the real center is. The traditional setting of the altar is when everyone, priest and congregation are all facing the same direction, toward the Lord.
“The fashion of our celebration of the Mass,” Nichols repeated, “should never be dominating or over-powering of those taking part. It should be well judged, respectful of its congregation, sensitive to their spiritual needs.” The Archbishop adds something about the beauty and inner order of the church itself. A church should be beautiful. “A beautiful, cared for church is the best preparation we can provide.” He cites one of his predecessors, Cardinal Hume. Churches are not just other buildings. They are “building with which we worship the Lord.” This is what the great cathedrals are, as well as so many lovely “ordinary” churches.
Archbishop Nicholas has a final, moving point that goes to the very essence of Christianity. Christianity is not a “religion,” which properly means an aspect of the virtue of justice by which all men set aside some sign of acknowledgment of the divine source. The point of view of Christianity is from top down. That is, it is something that has been given to us, unexpectedly, unanticipated. This understanding is what lies behind the emphasis on the fact that the priest is not the one who is the center. He stands in place of something. It is not “his” Mass. “In the Mass all that we receive is a gift of the Father,” the Archbishop tells us. “It is never ours to use and shape as we please. In the Mass all is to the glory of the Son. In this we are no more than instruments, humble and delighted to play our part…. In the Mass we who know Him also know that we are in this world to serve its humanity, in His name, until He comes again.”
Archbishop Nichols, I think, has it just right. We have received a gift that explains ultimately what we are. We will not concoct something better. In the meantime, we are asked to keep the reality, the memory, of what the Last Supper is, with its leading to the Crucifixion and our redemption before us. We do this primarily at Mass when we know what it is, when we, in the end, can say simply, that we are obedient servants. It is our obedience that opens our eyes. Like John Paul II, we do not “comment” on a Mass we have said. “It is the Mass. My task is to be obedient.” The fact is that nothing we change, subtract, or add makes it better (RS #31).
“In the Mass, all that we have is a gift of the Father.” Once we have understood this reality, little more needs to be said.
Fr. James V. Schall, S.J., is Professor of Political Philosophy at Georgetown University.
He is the author of numerous books on social issues, spirituality, culture, and literature including Another Sort of Learning, Idylls and Rambles, A Student’s Guide to Liberal Learning, The Life of the Mind (ISI, 2006), The Sum Total of Human Happiness (St. Augustine’s Press, 2007), The Regensburg Lecture (St. Augustine’s Press, 2007), andThe Mind That Is Catholic: Philosophical and Political Essays (CUA, 2008). His most recent book from Ignatius Press is The Order of Things (Ignatius Press, 2007). His new book, The Modern Age, is available from St. Augustine’s Press. Read more of his essays on his website.
Kita tidak perlu mengenal siapa yang menjerit.Setiap jeritan adalah permintaan tolong kepada Allah yang maharahim.Add sebagai response,reply to Bro Frans Indrapradja OFS
— On Thu, 9/29/11, Frans Indrapradja wrote:
From: Frans Indrapradja
Subject: Mohon bantuan doa anda!!!
To: “kancilia lia”
Date: Thursday, September 29, 2011, 4:08 AM
Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus,
Beberapa jam lalu saya mendapat kabar dari Pater Thomas Fix SCJ bahwa salah seorang saudara kita, Jeffrey Dompas, sedang diperiksa kondisi kesehatannya di Singapore, ada gejala leukemia (tentunya mudah-mudahan tidak). Pater Fix mohon agar kita semua mendoakan saudara kita itu. Ia adalah warga Gereja yang aktif dan anggota OPUS DEI.
Terima kasih, ya. Berkat Allah Tritunggal Mahakudus senantiasa menyertai anda sekalian. Dari Nias sampai Papua, dari pedalaman Kalimantan sampai Timor NTT. Dari Timor Leste sampai Sydney, Australia. Dari Amerika sampai Kanada. Dari Malaysia sampai Prapat di pinggir Danau Toba. Dari Lhamsai di Thailand sampai P. Batam dan tempat-tempat lain juga. Marilah kita bersatu dalam doa untuk saudara Jeffrey ini. O ya, jangan lupa juga untuk mendoakan negara dan bangsa kita yang sangat terpuruk ini.
Salam persaudaraan,
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
Christophorus H. Suryanugraha OSC
Ketua Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia
Tempat khusus untuk imam disebut panti imam (presbyterium). Panti imam dibuat
khas dan berbeda dari bagian ruangan gereja lainnya. Biasanya dengan lantai yang
lebih tinggi daripada tempat umat dan dirancang dengan hiasan khusus. Inilah
tempat penting yang cukup luas untuk kegiatan kudus dan bisa dilihat jelas oleh
semua yang hadir. Umat pun dapat berpartisipasi dengan lebih baik dan kegiatan
ritual dapat dilaksanakan di situ.
Di panti imam terdapat altar, mimbar, dan kursi imam. Ketiga perabot ini
ibaratnya satu paket yang amat penting dan bermakna. Ketiganya menopang
tindakan-tindakan liturgis selama Misa. Imam selebran akan secara bertahap
menggunakan perabot itu. Perabot pertama yang dituju adalah altar. Namun, dalam
Ritus Pembuka, altar baru sebatas dituju untuk dihormati dengan beberapa sikap
tubuh, baik yang secara khusus dilakukan oleh imam maupun oleh petugas liturgi
lainnya.
Keistimewaan altar
PUMR 296 merumuskan altar sebagai “tempat untuk menghadirkan kurban Salib dengan
menggunakan tanda-tanda sakramental. Sekaligus altar merupakan meja perjamuan
Tuhan, dan dalam Misa umat Allah dihimpun di sekeliling altar untuk mengambil
bagian dalam perjamuan itu. Kecuali itu, altar juga merupakan pusat ucapan
syukur yang diselenggarakan dalam Misa.” Ada tiga metafora yang saling
melengkapi: altar untuk kurban Tubuh-Darah Kristus, meja Tuhan untuk perjamuan
di akhir zaman, dan pusat pengucapan syukur umat dalam kesatuan dengan seluruh
Gereja. Altar itu sebaiknya permanen, materinya batu, dan berbentuk meja,
sehingga secara jelas dan lestari menghadirkan Kristus, Sang Batu Hidup (1 Ptr
2:4).
Bagaimana keistimewaan altar ditampilkan? Altar ditutup sehelai kain putih.
Altar dapat dihiasi rangkaian bunga, tapi tak berlebihan dan cukup ditempatkan
di sekitar altar, bukan di atasnya. Di atas altar ditempatkan hanya
barang-barang yang diperlukan untuk Misa, yakni Evangeliarium (dari awal
perayaan sampai sebelum pemakluman Injil); korporale, purifikatorium, buku
Misale, dan piala dengan patena, sibori (dari persiapan persembahan sampai
pembersihan bejana-bejana).
Lilin ditaruh di atas atau di sekitar altar, sesuai dengan bentuk altar dan tata
ruang panti imam. Di atas atau di dekat altar hendaknya dipajang sebuah salib
dengan sosok Kristus tersalib. Salib itu harus mudah dilihat oleh seluruh umat.
Semuanya harus ditata secara serasi, dan tidak boleh menghalangi pandangan umat,
sehingga umat dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di altar atau yang
diletakkan di atasnya (PUMR 304-308).
Mengingat makna dan keistimewaannya, maka altar sebagai simbol Kristus pun
dihormati dengan beberapa cara. Semua petugas membungkuk pada altar ketika
menghampirinya dan hendak memulai tugas. Ketika Ritus Pembuka imam selebran
menciumnya, lalu jika perlu juga mendupai altar dan salib. Dalam Ritus Penutup,
sebelum meninggalkan panti imam, ia kembali mencium dan membungkuk lagi bersama
petugas lainnya.
Menghormati tabernakel
Seringkali ada juga tabernakel di panti imam. Idealnya, tabernakel disendirikan
di sebuah kapel khusus yang dapat dijangkau dengan mudah dari panti imam.
Tabernakel memang sebenarnya tak diperhitungkan sebagai bagian dalam Misa.
Fungsinya berkaitan dengan ritual setelah Misa, yakni untuk menyimpan Tubuh
Kristus yang belum disantap dalam Misa atau yang dikhususkan bagi orang sakit
yang tak bisa hadir dalam Misa dan bagi kegiatan adorasi.
Letak tabernakel di panti imam juga tak seragam. Ada yang di belakang atau
samping altar. Tabernakel dihormati oleh setiap petugas yang melewati atau
menghampirinya. Jika di belakang altar terdapat tabernakel yang berisi Sakramen
Mahakudus, maka penghormatan awal untuk altar dijadikan satu dengan untuk
tabernakel, yakni dengan cara berlutut. Berlutut adalah sikap hormat tertinggi
yang khusus diberikan bagi Sakramen Mahakudus. Simbolsimbol Kristus lainnya
(imam, Kitab Injil, altar, salib) dihormati dengan cara membungkukkan badan.
Christophorus H. Suryanugraha OSC
Kejadiannya misa Sabtu sore tgl 29 Okt, saya duduk dibaris kedua sisi kiri depan koor, hanya seorg ibu yg duduk disisi yang lain. Dibelakang duduk sorang muda berkaca mata minus tebal , dengan kostum Unicef (barangkali donatur) ala pemain FC Baercelona, celana jean dan sepatu kets. Karena kaki yg dibentur2 ditempat berlutut belakang saya meski sdh ditengok dan tak berubah saya pindah kebangku belakang. Bila bagi pastor celana pendek seorg gadis sangat mengganggu, bagi saya anak muda ini lebih asosial, duduk mendengar homili sambil mengangkat sikutnya kebangku belakang, dan gerakan kaki terus menerus ditempat berlutut yg jadi satu dg tempat duduk saya. For the bad manner and for the beauty of the eyes, always praise to the Lord. Apa saya perlu minta pastor mengingatkan spt thd gadis celana pendek atau kpd siapa saya harus minta penertiban Sie Tatib atau minta para katekis memberi pembinaan berliturgi dengan sopan? Mohon bantuan OMK, siapa tahu ybs adalah anggota di paroki.
Leave your response!
Like It
Obituary
Jadwal Misa
Senin – Jumat
pukul 06.00 WIB
Jumat minggu pertama
pukul 18.00 WIB
Sabtu
pukul 17.30 WIB
Minggu
pukul 06.30, 08.30,17.30,20.00 WIB
Komentar Terbaru
Kalender
Trend
Facebook Page
Recent Posts
Most Commented
Archives
Switch to our mobile site
Powered by WordPress | Log in | Entries (RSS) | Comments (RSS) | Arthemia theme by Michael Hutagalung