Home » Bagian Pengelolaan Komplek Gereja

Bagian Pengelolaan Komplek Gereja

Bagian Pengelolaan Komplek Gereja

Bagian ini bertugas untuk menjaga dan merawat kompleks Gereja dan Wisma Paroki, saran / barang-barang inventaris yang ada di dalamnya serta memikirkan segala sesuatu yang berhubungan dengan keberadaan gedung Gereja. Kegiatan seksi ini memang tidak melibatkan banyak umat. Namun demikian umat dapat ikut ambil bagian dalam memelihara dan menjaga segalah sarana dengan hati-hati.

Share

20 Comments »

  • hendra said:

    Saudar-saudara yang terhormat.
    Saya terpaksa menulis surat ini,karena sudah keterlaluan —> Paroki kita ini menjadi arogan.
    Dimulai dengan diremajakannya halaman gereja.Mula-mula dibangun kandang aluminium untuk bunga anggerek yang gagal total.Kemudian dengan digesernya tempat parkir untuk orang cacat fisik ke tempat yang sedikit lebih jauh.Dan jalan akses kursi rodanya dipersempit,hampir pas untuk toda kursi. Pucak (arogansinya) dimulai belakangan ini dengan dihalanginya tempat parkir misa harian pagi dengan bangku-bangku raksasa.Terakhir jalan akses parkir di “Plaza” dihalangi dengan pot-pot tanaman dan pohon palma yang daunnya bisa menyamber kepala orang. Dan sejak beberapa hari ditambah halangannya dengan sebuah kursi raksasa lagi.
    Ketika ada ada yang complain oleh seorang “user”,—> dikomentari oleh imam pada hari pagi itu, yang mengarah kepada arti —>Kalau tak suka supaya ke gereja lain saja. Bukankah ini suatu arogansi?
    Kesimpulan : Paroki St.Igantius lama-lama tidak user friendly lagi. Mudah-mudahan tidak sampai pasang portal,dan umat hanya boleh parkir di jalanan.

    Bernardus Hendrani

  • hendra said:

    Mohon dapat dimuat barangkali masih ada yang mendengarkan,bila Paroki ini bukan sesuatu yang menunjukkan otriter seolah paroki adalah milik para pejabat gereja. Paroki disamping dimiliki hirarki juga dimiliki umat. Pastor boleh datang dan pergi sedangkan umat sejauh tidak pindah akan mempunyai paroki.

  • Billy said:

    Yang bertelinga harus mendengar dan yang mempunyai mata harus menanggapi tulisan ini !!!!!!! mohon diperhatikan , karena kasihan umat2 tua pada umumnya menjadi sedikit terganggu kalau mau misa di St. Ignatius tuh…..!!!!!!

  • gieshock said:

    halo Bapak/ Ibu,

    sekadar urun rembug, sepertinya Bpk.sudah terlanjur emosi dan sakit hati karena perkataan bernada arogansi. Terlepas dari hal tersebut, beberapa hal yg berkesan :
    - Peremajaan halaman gereja yang menjadi semakin hijau dan adem, sepertinya membuat suasana lebih nyaman, antara lain dengan doa completorium, misa natal lansia maupun dengan perayaan malam natal kemarin. Mungkin pada awalnya banyak yang protes, tetapi kemudian mulai dirasakan manfaatnya, mungkin sebuah proses perkembangan.

    - kandang aluminium, sepertinya sudah beralih fungsi menjadi bentuk lain yang akan berguna dan kemudian tertunda karena kegiatan menjelang Natal kemarin, sehingga rangkanya masih diletakan di Wisma.

    - mengenai kursi raksasa, saya kurang paham pengertian raksasa ini. Sepertinya ada kursi panjang dari aluminium yang dapat dipindahkan dan tidak berat. Begitu juga dengan pot tanaman.

    - saya jadi ingin bertanya, apakah indikasi dari paroki milik para pejabat gereja..? sebagai kaum muda, sejauh aktivitasnya masih proporsional dan positif, sepertinya kita pun bisa berkreasi dalam lingkup yang ada, artinya tidak ada larangan.

    Semoga pak Hendra dan pak Bily tidak menangkap makna harafiah secara langsung dari perkataan Imam itu. Atau bila susah dicerna, setidaknya bisa mendoakan sang Imam yang mungkin kurang istirahat/ tidak fit sehingga sensitif. Lebih jauh lagi, bersyukur memiliki Imam yang masih berkarya, dengan kontribusi yang mungkin lebih banyak porsinya, ketimbang melihat satu perkataan tadi.

    Kalau masih tidak suka juga, bukankah hal ini bisa dibicarakan secara berdua dengan lega..? karena media/ forum ini tentunya tidak bisa menjawab penasaran Bapak-bapak secara langsung. Hanya sebagai sarana, bukanlah tujuan.

    Jadi ingat pepatah lama, “tak kenal maka tak sayang”, semoga pak Hendra dan pak Bily mau lebih mengenal seseorang tersebut, sebelum menilai lebih jauh :)

    Selamat Natal dan menjelang tahun baru 2011 untuk Bapak sekeluarga.

  • Bernardus Hendrani said:

    Amin,amin !
    Mengapa mempertimbangkan imam yang tidak fit atau kurang tidur?
    Namun tidak mempertimbangkan umat yang sudah lansia dan kalau jalan merasa nyeri sekali?
    Kursi raksasa bukab yang stailess steel — tetapi yang dari kayu.Coba,—>Pagi-pagi,siapa yang harus menggesernya?
    Yang greget bukan pak Hendra (Boeniardi) tetapi Bernardus Hendrani.
    Dan saya tidak bakal ke gereja lain.
    Saya tidak berminat untuk berargumentasi lagi.Kalau saya dianggap salah dan dianggap emosional,saya bersedia minta maaf.

  • artul said:

    Masukan yang sangat bagus pak. Selain tidak terlalu memperhatikan akses untuk lansia dan “disable”, halaman gereja memang terasa sempit sekarang.

  • Billy said:

    Wah, saya sangat senang ada banyak response dari kawan2 se paroki St. Ignatius tentang ke tidak nyamanan tata ruang halaman gereja.
    Saya sangat tidak sependapat pada komentar bpk/ibu/sdr Gieshock yang
    ” tidak mengetahui ” hal sebagai berikut :
    1. Tahukah anda kursi2 yang dimaksud itu memang berat dan gede2.
    2. Gile tanaman pot yang dimaksud juga gede2, sehingga berat!
    3. kalau memang dulunya diperuntukan untuk orang2 disable, kok
    dengan se-enaknya fasilitas2 utk itu dihapuskan.
    4. ” kandang aluminium ” yang dimaksud memang gede tuh….!
    ukurannya dapat dilihat dgn kasat mata.
    5. Saya sangat mengerti dan menghargai bahwa seorang romo itu
    sudah berkorban…. tapi saya tidak sependapat kalau demi
    kesenang pribadi kenyamanan umat dikorbankan !

  • Bernardus Hendrani said:

    Renungan menjelang tahun 2011 :
    Kita tidak dapat memberi apa yang tidak kita miliki;kecuali itu hanya janji kosong.
    Kita tidak dapat mengajar/berkhotbah tentang suatu kebajikan,kalau kita sendiri tidak mempraktekkannya;atau iitu hanya omong kosong belaka.
    Apakah kita dapat mengajar tentang “silence”,kalau kita sendiri hanya berkoar-koar?
    Kita tidak dapat mengajar tentang kebenaran kepada orang lain,kalau kita sendiri menghindari kebenaran.
    Kita tidak dapat hidup nyaman,kalau kita tidak bisa membuat orang lain hidupnya nyaman.
    Semua kontroversial? Mungkin.
    Semua lamunan ideal? Bukan,melainkan harapan nyata yang mendesak.

    Bernardus Hendrani

  • hendra said:

    Adalah nilai-nilai kebajikan yang universal untuk memberikan fasilitas umum pada masyarakat , lebih-lebih bagi the elderly/ the golden age/”manula”. Bukan karena suatu nilai agama atau kultur, namun bisa juga karena civilasasi yang berdasarkan kekristenan atau juga karena budaya kung tze/confucianism yang lebih mementingkan rasa hormat kepada mereka yang tua.
    Gambar terlampir adalah fasilitas parkir di gereja St Bernadette, Zion Road, dan juga selalu ada fasilitas ini, bahkan berada pada posisi langsung dekat pintu utama alias disamping depan masuk gereja seperti di Nativity of blessed Virgin di Serangon road. Masih di-embel-embeli :”unauthorized vehicles will be Clamped”. Ini bukan hanya berlaku di gereja namun juga di tempat-tempat publik, juga di transport umum (bus dan mrt) selalu ada tempat khusus bagi disable ATAU THE ELDERLY, BAHASA MELAYUNYA USIA EMAS. Di sini selalu digunakan 4 teks, Huayi Simple Mandarin, English, India, dan Melayu.
    Lain halnya dengan di Indonesia asalnya mungkin sama dengan yang berlaku di birokrasi pemerintahan, seorang teman dulu dalam pendidikan kedinasan entah memang dididik atau hanya pemeo saja kalau bisa dibikin susah mengapa harus dipermudah, ini juga yang saya pernah alami dalam berhubungan dengan instansi-instansi kedinasan dulu waktu bekerja.
    Saya tidak mengatakan bahwa negara kita sebuah negara yang uncivilised, namun barangkali tradisi dan habits mempengaruhi juga sampai ke institusi gereja, seperti birokrasi pengurusan surat-surat , termasuk yang berurusan dengan kesekretariatan paroki (pengalaman pribadi dalam proses perkawinan anak saya), dan juga pengurus2 lingkungan tertentu yang mempersulit pembuatan surat pengantar buat umatnya hanya karena umatnya tidak aktif di lingkungan; syukur-syukur hanya karena kurang sadar artinya pelayanan, sehingga tidak ikut-ikutan “kalau bisa dibikin susah mengapa harus dipermudah”

    salam,
    hendra

  • hendra said:

    Buat Sdr Gieshock (nama samaran atau bukan???). Anda menilai saya yang menilai terlalu jauh. saya tidak menilai seseorang namun menilai sebuah situasi dan keadaan karena kemampuan saya untuk mengobservasi dan memberikan penilaian.
    Bila menilai orang saya memang mempunyai profesi yang memberikan evaluasi kepribadian para calon eksekutif disuatu group perusahaan dengan manajemen klas satu, bukan hanya bagi keperluan rekrutmen namun juga untuk self assesment. Dan saya melakukannya bukan untuk ratusan orang, bahkan saya telah melakukan untuk ribuan orang. Selama lebih dari lima tahun tefrakhir ini. Dan itu saya lakukan sesudah saya retired sebagai pimpinan Human Resources di sebuah leading company/multi national company.
    Sebenarnya saya tidak perlu mengexpose ini, namun karena Sdr telah menilai saya dalam tulisan Sdr, rasanya saya merasa perlu meresponse. Bila diperlukan saya dapat saja memberikan evaluasi atau gambaran kepribadian para imam atau yang lainnya tanpa harus melakukan pemeriksaan dan interview dengan ybs.
    Salam,
    Hendra Boeniardi Tanumihardja (bukan nama samaran)

  • Billy said:

    Akhirnya semuanya kembali seperti semula :

    Pada tgl. 31 Desember 2010 malam, saya menghadiri Misa Tutup
    Tahun 2010, saya terpana ( bersyukur ) kali ini semua unek2
    dari para milis sudah mendapatkan hasil yaitu Pot2 bunga
    dan bangku taman yang gede2 sudah dipindahkan dan keadaan
    tata ruang dimuka pintu gereja sudah kembali seperti semula
    untuk itu gereja kita kelihatan lebih bagus……

    salam.

  • George Adi Kusuma said:

    Saya ikut tergelitik dengan pernyataan saudara Gieshock, yang mengatakan bahwa “….Semoga pak Hendra dan pak Bily tidak menangkap makna harafiah secara langsung dari perkataan Imam itu. Atau bila susah dicerna, setidaknya bisa mendoakan sang Imam yang mungkin kurang istirahat/ tidak fit sehingga sensitif. Lebih jauh lagi, bersyukur memiliki Imam yang masih berkarya, dengan kontribusi yang mungkin lebih banyak porsinya, ketimbang melihat satu perkataan tadi…”.
    saya pikir pak Hendra dan P Billy sangat “concern” dengan gereja dan Imamnya sehingga memberikan komentar seperti di atas… tapi yang mungkin perlu di garis bawahi dari pernyataan saudara “….Jadi ingat pepatah lama, “tak kenal maka tak sayang”, semoga pak Hendra dan pak Bily mau lebih mengenal seseorang tersebut, sebelum menilai lebih jauh…” apakah saudara benar-benar “mengenal” seseorang tersebut ??. saya hanya berpegang pada satu hal… Jadilah Orang tua yang benar bila anda menjadi orang tua, dan jadilah guru yang dapat diteladani bila anda menjadi guru tentu saja jadilah imam yang baik bila anda “dipilih” menjadi imam, dimanapun anda berada… menjadi orang tua, guru dan imam tentu saja boleh “sensitif” dan boleh saja “marah” tapi apakah terus menerus?? kalau ada yang demikian saya hanya berdoa semoga anak si orang tua, murid si guru dan umat si imam dapat terus bertahan.. (sampai kapan?? )…. salam

  • Billy said:

    Jawaban untuk Bpk/Sdr. George Adi kusuma
    Terimakasih atas masukannya….
    1. Saya bukan nya sudah mengenal Imam yang bersangkutan, akan tetapi
    malahan pernah menasehatinya didalam hal-hal lain… tetapi agak
    nya ybs selalu cuek sama semua nasehat tuh… makanya sangat naif
    kalau saya tidak mengenalnya.
    2. ” Jadilah orang tua yang baik ” , dengan segala kekurangan diri
    saya, maka saya beritahu anda bahwa saya berdomisili di wil.FX
    silahkan mencari tahu ttg diri saya. Adanya kritikan tsb diatas
    karena ” sudah keterlaluan “, maka nya saya ikutan urun rembug.
    3. Jangan cepat marah… wah, jangan2 anda sendiri pun cepat marah
    kali ya ?, kalau saya sudah mencoba merem kemarahan saya tuh.
    4. Ttg si Imam yg bertahan terus, kalau memang dengan segala perangai
    yg menyebalkan. lebih baik pindah saja ke paroki lain.

    Terimakasih

  • hendra said:

    Sdr George Adi Kusuma,
    Saya tidak menilai pastornya namun yang saya komentari adalah institusi atau fungsi dari institusi itu sebagaimana seharusnya dilakukan. Terima kasih dan Selamat Tahun Baru 2011. God bless you.
    salam,
    hendra

  • hendra said:

    Semalam sesudah ikut PE Ephipany di paroki saya sempatkan berdoa di gua Maria duduk disudut paling belakang. Tiba-tiba tersentak oleh bau asap rokok yang amat keras sehingga menengok ke belakang, seorang anak muda lewat. Kalau lewat saja baunya begitu menyentak, apalagi kalau dia berhenti atau berada di sekitar saya. terpikir dalam benak saya, mestinya lingkungan gereja, sekolah dan rumah sakit adalah area bebas rokok dan ini diatur oleh Perda. Terpikir untuk mengusulkan kepada Seksi PGD yang saya kenal untuk memasang tanda-tanda Dilarang Merokok atau No Smoking Area di halaman gereja. Kalau didalam gereja kan hanya orang gila saja yang merokok. Namun terpikir pula semua pastor di paroki kepala adalah perokok berat (nah sekarang saya baru menilai ; ah, biarlah sebagai kompensasi banyak pengorbanan mereka seperti Sdr Gieshock tulis, banyak kontribusinya, kurang fit, sensitif, dst. Memang rokok bisa sebagai pelarian). Atau mungkin saya bisa usulkan kepada seksinya , agar dibuatkan kotak smoking area di halaman gereja (injil juga ide gila).
    Kemudian saya teringat ketua RT saya seorang haji dan aktivis partai tertentu yang militan, yang sangat anti rokok dan mengkampanyekannya dan ini dilakukan sampai mencetak leaflets, banner, dan selalu berusaha padea setiap kesempatan untuk bicara anti rokok dengan segala justifikasinya, dan karena ia muslim yang taat keluarlah segala dalil-dalil agamanya. Banyak orang tidak senang kepada Pak Ketua RT ini,sampai ada kampanye untuk diganti terutama ibu-ibu dengan berbagai alasan seperti mempersulit, dst; bahkan beberapa konotasi oleh beberapa orang penghuni satu RT yang saya kenal, mencap rasialis, anti ……ini, dst. Seorang pendatang baru yang dekat rumah langsung diperingati supaya tidak masak babi, seorang teman lain yang pribumi dan muslim mengingatkan saya “hati-hati pak hendra, bekas sandal nya pak hendra nanti dipel sepulangnya dari rumahnya”. Namun bagi saya pak Haji adalah seorang teman bicara yang enak, kalau orang lain diterima di terasnya, saya sering diajak masuk kedalam rumahnya (peringatan teman pribumi yang muslim itu tidak benar), dan sering kalau saya berkunjung dan mengobrol ditahan untuk tidak pulang dulu. Saya tidak mendukung kampanye anti rokoknya, yang dilakukannya menyita rokok di tempat yang ditemuinya, di taman dan di mesjid dekat rumah, persuade sampai bawa pulang untuk di koleksi (sampai sekarung plastik )rokok dan bungkusnya dan ditunjukkan kepada saya , namun biasanya yang bisa dipengaruhinya adalah klas “satpam” dan klas “supir”. Saya tidak menyatakan dia sahabat saya, hanya sebagai teman bicara yang enak. Kita bisa bicara tentang injil dan Al Quran (saya punya Al Quran), dan saya bisa bicara yang ada di KS dan AQ, seperti kitab Yahya, Maryam tentang Isa Almasih, Zabur, dsb. saya juga menyampaikan pembetulan dari persepsinya yang salah seperti bahwa Yahudi identik dengan Nasrani, semua orang Kristen tanpa membedakan bagi dia semuanya adalah Nasrani dan karena identik dengan Yahudi bersebrangan dengan muslim. Saya juga menyampaikan bahwa orang Yahudi tidak identik dengan Nasrani, bahkan lebih daripada muslim mereka hanya menganggap Yesus Kristus hanya sebagai seorang guru atau filosof. Masih mending muslim yang menyebutnya nabi Isa Almasih w.a.s,mengakuinya sebagai nabi yang dihormati. Bedanya dengan saya adalah agama saya menerima nabi Isa sebagai Tuhan yang menjadi manusia. Kita mempunya pandangan yang beda, yang diperlukan hanyalah saling memahami, menghormati kepercayaan lain, dan toleransi. Ketika saya tanyakan kepada `beliau : Pak Haji, nabi Musa itu orang Arab atau Yahudi?”. Ia tampak terkejut, mungkin tidak tahu jawabnya atau pasti dia tahu bahwa nabi Musa dengan Tauratnya adalah Yahudi, karena Taurat sudah ada ratusan tahun sebelum AQ diturunkan. Saya menulis ini tentang Pak Haji yang katanya rasialis, dsb karena mengasosiasikan hal rokok-merokok di halama gereja dan juga karena saya kagum semangat kampanye anti rokoknya. Pak haji ini sangat mendukung fatwa MUI yang menyatakan merokok adalah haram. Merokok adalah sebuah pilihan, meskipun semua menyadari konsekwensinya seperti yg tertulis di bungkusnya, mengakibatkan kanker paru, keguguran, dan juga impotensi.
    salam,
    hendra

  • hendra said:

    ralat pada`penutupan alinea pertama dalam kurung tertulis injil juda ide gila seharusnya (ini juga ide gila) Terima kasih

  • George Adi Kusuma said:

    Pertama-tama saya ucapkan permohonan maaf, di karenakan pemenggalan kalimat yang saya lakukan tidak tepat menyebabkan kesalahan presepsi buat pak billy dan pak hendra..
    mungkin yang akan saya luruskan adalah sebagai berikut :
    ———————
    Mengutip tulisan saudara Gieshock sebagai berikut “….Semoga pak Hendra dan pak Bily tidak menangkap makna harafiah secara langsung dari perkataan Imam itu. Atau bila susah dicerna, setidaknya bisa mendoakan sang Imam yang mungkin kurang istirahat/ tidak fit sehingga sensitif. Lebih jauh lagi, bersyukur memiliki Imam yang masih berkarya, dengan kontribusi yang mungkin lebih banyak porsinya, ketimbang melihat satu perkataan tadi…”.
    jadi tulisan saudara Gieshock yang saya soroti mengenai “kurang istirahat/ tidak fit” kalau dikarenakan kesibukan nya melayani umat saya pikir sangat wajar… tapi kalau kurang istirahat dan tidak fitnya disebabkan oleh bermain kartu sampai malam dengan penjaga sekolah??? ehmmm ( mohon maaf saya sering melihat dengan mata kepala sendiri.. )

    pernyataan kedua yang disampaikan saudara Gieshock adalah “….Jadi ingat pepatah lama, “tak kenal maka tak sayang”, semoga pak Hendra dan pak Bily mau lebih mengenal seseorang tersebut, sebelum menilai lebih jauh…”
    kalimat di atas menimbulkan penafsiran lain dan pertanyaan lanjutan… apakah saudara Gieshock juga sudah mengenal orang tersebut??
    karena dari pengamatan terhadap teman2 mudika dan teman2 yang juga pernah aktif di paroki dan “mengenal” orang tersebut banyak yang “kapok tuh…”…. silahkan periksa dengan pihak ketiga… yang notebene bukan pejabat gereja… biar lebih fair….
    demikian yang saya sampaikan…. mohon maaf sekali lagi bila kurang berkenan….
    ——————————–
    Mungkin perlu di pertegas lagi saudara Gieshock… saya tidak mengenal pak Billy ataupun Pak Hendra… namun yang saya tahu… kedua orang ini sangat “concern” terhadap gerejanya dan sangat peduli dengan orang lain… itulah yang menyebabkan mereka cukup disegani oleh umat…

    terima kasih

  • adria said:

    Soal disegani umat, biarlah umat sendiri yang menilai, soal menilai pribadi orang, saya setuju dengan saudara Gie Shock, kenali orang itu, setelah kenal dan tau lebih dalam bukan hanya sekedar tau, silakan nilai lagi siapa dia. Sakit hati karena berbeda pendapat bukankah itu biasa di kehidupan sehari2. Tapi cobalah ingat bukankah Yesus sendiri pernah berkata Kasihilah musuhmu? Dan ayat yang selalu menampar muka saya, Kalau Engkau mengasihi orang yang mengasihimu, apakah upahmu? Tapi itu bukan masalah utama di halaman ini. Halaman ini tidak membahas soal ini, tp membahas soal bagian kompleks pengelolaan komplek gereja.

    Berhubung pak Hendra menulis juga di sini soal box rokok (repost dari milis paroki ya pak :P ), saya jg ingin menyampaikan pendapat saya sebagai umat paroki ini juga ..

    Katanya yang haram2 itu enak loh pak. :) . *becanda loh pak, jangan dianggap serius ya. Sampai detik ini saya percaya bahwa merokok adalah masalah kesehatan dan bukan masalah agama, ras ataupun pendidikan.

    Saya rasa Bapak bukan perokok, sama seperti saya, saya juga bukan perokok, dan saya juga benci dengan asap rokok. Tapiii, menurut saya, kalau dipasang tanda dilarang merokok di halaman gereja kok rasanya gimana yah. Saya setuju sekali kalau tanda2 itu dipasang di depan ruangan yang memang tertutup, yang sirkulasi udaranya sangat terbatas. Saya bisa marah besar jika ada anak mudika atau teman2 dari komsos yang merokok di dalam ruang mudika/ruang komsos. Tapi saya tidak bisa melarang mereka merokok di luar ruangan. Membuat kotak smoking area di halaman gereja, ya betul seperti kata Bapak, itu ide gila *saya pun sependapat dengan hal ini, saya tidak ingin teman-teman seiman saya harus mati lebih cepat karena merokok di dalam kotak itu. Karena mereka jg harus menghisap langsung hembusan asap yang mereka keluarkan.

    Gereja juga tidak hanya hidup pada hari minggu saja, seringkali banyak teman yang menginap di gereja, untuk membuat gereja ini terlihat lebih baik bagi semua umat, memberikan pelayanan yang tulus, dan banyak dari teman-teman ini yang untuk melepas lelahnya, salah satunya dengan merokok. Selesai merokok sambil beristirahat, mereka kembali bekerja.

    Saya tidak membenarkan kehadiran rokok. Namun saya berusaha berdamai dengan situasi seperti ini. Selama ini solusi yang saya berikan pada diri sendiri, jika ada teman atau orang ataupun keluarga saya sendiri yang merokok dan asapnya kemana-mana, saya akan menegur dia langsung (mulai dari yang halus sampai yang kasar), dan selama ini tidak perlu sampai berbuat yang tidak menyenangkan, cukup kata-kata yang halus sudah membuat mereka mematikan rokok atau minimal menghindarkan arah asap tersebut supaya tidak mengenai muka saya.

    Seperti kata Bapak, merokok adalah sebuah pilihan, meskipun semua menyadari konsekwensinya seperti yg tertulis di bungkusnya, mengakibatkan kanker paru, keguguran, dan juga impotensi. Kitapun bisa memilih, untuk menjauhi mereka, jika kita benar-benar tidak nyaman berada di antara mereka.

  • Billy said:

    Buat m’bak Adria,
    Sudah saya bilang , saya mengenal orang yang saya komentari….oleh sebab itu sangat sayang kalau m’bak masih mengajari saya seperti itu !!!
    Saya juga sangat tidak setuju dengan kata2 ” disegani umat “, saya tidak pernah merasa dan meminta untuk disegani umat…….emangnya siapa sih saya…???? hanya umat biasa yang tidak dapat berdiam diri kalau ada sesuatu hal yang sudah “keterlaluan ” gitu…..
    sudah saya bilang untuk mencari data2 saya, sangat mudah karena saya adalah umat paroki St. Ignatius sejak sebelum ada St. Ignatius yang sekarang karena masih memakai lantai dua SMP Loyola saat itu.

  • Bernardus Hendrani said:

    Saya tidak akan komentar apapun.Apapun yang terjadi dengan paroki St.Ignatius.Saya tak mau invoved dalam apa-apa.
    Salam

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.